Sabtu, 21 Agustus 2010

Isilah Ramadhan dengan Berdzikir

Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin

Bulan Ramadhan yang dinanti-nanti oleh setiap muslim, kini telah tiba. Bulan ini penuh berkah. Di dalamnya terbuka banyak sekali pintu amal kebajikan. Sehingga Nabi kita Muhammad SAW menyebutkan di bulan Ramadhan ini dibukakan pintu sorga, ditutup pintu neraka dan dirantai iblis syaithan. Tidaklah mungkin seorangpun Muslim yang percaya atau beriman dengan sungguh-sungguh akan menolak atau bahkan ragu ragu dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam ini. Karena siapapun muslim yang meragukan ucapan Muhammad Rasulullah, tentulah akan rusak iman dan islamnya.

Menyikapi sabda Rasul ini, marilah kita isi Ramadhan kita dengan amal yang berguna. Diantaranya dengan memperbanyak ddzikir kepada Allah. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan, "Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah, dzikir dengan sebanyak-banyakya." (Q.S. Al Ahzab: 41).

Kita menyadari bahwa salah satu wasilah atau cara agar seseorang selalu dapat berkomunikasi dengan Allah adalah dengan berdzikir (Zikrullah). Bahkan shalat juga disebut dalam Alquran sebagai bentuk dzikir kepada Allah … ‘ ash-Shalatu li dzikri ..’ shalat itu adalah ingat kepada KU. Demikian Allah ungkapkan apa dan bagaimana peran dzikir itu. Dzikir secara harfiah berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan. Zikrullah berarti mengingat Allah.

Maka dzikir mengandung dua pengertian yakni zikrul lafzhy dan zikrul ma’nawy.
Zikrul lafzhy adalah dzikir yang mengandung puji-pujian kepada Allah. Baik itu berupa tasbih, tahmid, tahlil yang dilafazkan dengan lisan. Sedangkan zikrul ma’nawy adalah mengingat Allah dalam hati, baik ketika diberikan Allah nikmat atau diuji dengan berbagai cobaan. Sebenarnya, kedua bentuk dzikir ini tidak dapat dipisahkan. Keduanya, saling berkaitan satu dengan lainnya.

Ketika seorang mukmin mendapatkan suatu nikmat dalam hidupnya, maka ia akan langsung ingat kepada Allah. Ingatannya akan membawa kepada kesadaran bahwa nikmat yang ada di tangannya kini, adalah pemberian Allah semata. Sangatlah pantas ketika itu ia akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah, sebagai tanda bersyukur kepadaNya.

Dikala seseorang melantunkan dzikir lisan (ucapan), maka qalbu (hatinya) langsung merasakan kehadiran nikmat Allah. Berikutnya, akal pikirannya sadar bahwa kekuasaan Allah ada di balik setiap gerak alam. Maka, semua amalannya, semua tindak tanduknya, akan selalu dijaga dengan amat berhati-hati (taqwa). Karena itu, dzikir itu berangkat dari kekuatan hati ditangkap oleh akal, dan diucapkan dengan lisan, lalu dibuktikan dengan ketaqwaan. Dzikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman.

Berdzikir berarti taat kepada perintah Allah. Dalam pengamalannya, dzikir dapat dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Allah SWT berfirman, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri, di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …” (Q.S. An Nisa’ : 103).

Dzikir dapat pula dilakukan di mesjid, mushalla, rumah, kantor, di pasar, atau dijalan sekalipun, dan bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah (dalam majelis).

Tempat dzikir berada di dalam hati, bukan diujung lidah belaka.Yaitu dengan qalbu menjadi khusyu’, khudhu’, tadharru’, tawadhu’, dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’, dilakukan di setiap kesempatan, pagi dan petang, siang dan malam.
Allah SWT berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengerasakan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf: 205)

Dzikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian. Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian. Maka untuk mencapai kedamaian dan ketenangan itu jalannya adalah mendatangi sumbernya dan membersamakan diri dengan-Nya. Dzikir itulah jalan pembersamaan (ma’rifatullah). Allah SWT berfirman:

... أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (Q.S. Al Baqarah: 152).

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar Ra’d: 28)

Adapun orang yang meninggalkan zikrullah berarti ia telah membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya. Allah SWT berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah); mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.” (Q.S. Mujadilah: 19)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulum Ad Din berkata: “Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah SWT. Dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali dengan kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah). Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai. Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa berfikir tentang berbagai penciptaan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang untuk bertafakkur dan berdzikir. "

Allahu A’lam bissawab

0 komentar: